Jumat, Mei 12, 2006

Selesaikan Masalah dengan Santun

Publikasi: 21/07/2005 13:27 WIB

eramuslim - Dijamin tidak ada yang suka punya masalah dengan orangtua. Dunia terasa begitu sempit, apalagi bila disertai dengan aksi saling diam dan mendiamkan, maka akan membuat diri semakin tertekan. Seandainya kita masih tinggal dengan mereka, kalau bertemu saling melengos. kalaupun sudah pisah rumah, tidak akan ada telepon dari mereka untuk kita atau sebaliknya. Mungkin ada perasaan bersalah atau disalahkan, hingga terjadi masalah tersebut. Tapi daripada sekedar merasa bersalah dan disalahkan, yang lebih utama adalah menyelesaikan masalah itu.

Mana enak sih 'marahan' terus dengan orangtua? Tapi bagaimana cara menyelasaikannya? Berikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hubungan dengan orangtua. Idealnya kedua belah pihak berinisiati dan bersemangat memperbaiki keadaan. Kalau kita sebagai anak yang memulainya, kenapa tidak?

Cari akar masalah

Setiap masalah pasti ada penyebabnya, maka mencari akar permasalahan merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan. "Cari sumbernya, apa pemicunya, objektif atau tidak, " kata Enny Hanum Psikolog UI. Menurutnya, Proses ini tentu harus dilakukan dengan tenang dan pikiran terbuka. Yang terpenting, hindari perasaan diri paling benar, karena perasaan itu telah menghilangkan hampir 100% onjektifitas.

Sedangkan menurut Ustadz DR. Surahman Hidayat, yang pertama harus dilakukan adalah mencoba memahami keunggulan orangtua. "Posisi orangtua sebenarnya lebih kuat, karena orangtua berpikir jernih, ikhlas, semua untuk anak. Orangtua itu berpikir setelah untuk Allah, ya untuk anak. Kejernihan dan keikhlasan orangtua itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Selain itu, orangtua juga sudah punya pengalaman, " ungkapnya

Walau demikian, lanjutnya orangtua perlu memahami bahwa biasanya anak sulit sekali untuk mengalah. Tidak mengurangiwibawa orangtua bila dalam soal itu orangtua mundur setapak. Bahkan disitulah letak kearifan orangtua.

Musyawarah

Setelah akar masalahnya ditemukan, kini saatnya duduk bersama membahas inti masalah. Ajaklah orangtua duduk bersama membicarakan masalah ini. Bermusyawarah adalah jalan yang sangat sering dicontohkan Rasulallah para shalihin. Rasulallah pernah bicara banyak pada pamannya Abi Thalib, tentang keputusannya untuk terus menyebarkan risalah, disetujui atau tidak oleh pamannya. Karena kata-kata Rasul yang teramat halus dan bijak, Abi Thalib tidak merasa terluka dan marah.

Bercermin dari teladan ini, maka yang harus diperhatikan adalah adab dan sopan satun anak dalam berkomunikasi dengan orangtuanya. "Jangan sampai melukai hati orangtua, " tegasnya. Hendaknya semangat bermusyawarah diimbangi dengan persiapan maksimal, misalnya pemilihan kata yang sesuai dengan karakter dan suasana hati orangtua. Dalam suasana sejuk, berilah pengertian tentang kekeliruan pandangan mereka, bila memang secara objektif mereka keliru. "Biasanya orangtua yang kurang akses ke informasi itu kolot dan konservatif. Namun, bagaimanapun konservatifnya, mereka orangtua yang harus dihormati, " jelasnya

"Sebaik apapun materinya, tapi kalau cara menyampaikannya tidak bagus, akibatnya akan menjadi kacau, " timpal Enny

Menurutnya, ketakziman kepada orangtua itu wajib dilakukan seorang anak. Bila karena keterbatasan berkomunikasi dari pihak anak maupun orangtua, musyawarah hanya akan menemui jalan buntu, sehingga tidak ada salahnya menghadirkan pihak ketiga. "Cari orang ketiga yang profesional, artinya orang yang bisa melihat sesuatu secara objektif, bisa memakai akalnya dengan baik dan tahu keadilan, " paparnya

Pihak ketiga ini misalnya pamanatau keluarga dekat lainnya, seorang tokoh, ustadz atau lainnya yang bisa dipercaya dan didengar pendapatnya. Keberadaan pihak ketiga akan memberikan perspektif baru pada suatu masalah. Bukan tidak mungkin masalah yang terjadi hanya berupa kesalahpahaman dan dapat diselesaikan dengan menjernihkan komunikasi kedua pihak.

Istikharah

Bila memang setelah musyawarah tidak juga ditemukan masalah, "Serahkan pada waktu," kata Ustadz Surahman. Jangan dipaksakan masalah harus selesai dalam waktu singkat, bila tidak memungkinkan. Cooling down agar terjadi perubahan suasana yang lebih baik. Namun, itu bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Seiring waktu, hendaknya komunikasi yang baik dengan orangtua tetap harus dijaga, tunjukan pula rasa sayang dan hormat pada orangtua, serta terus berdoa kepada Allah. Alangkah sangat baiknya, anak dan orangtua juga melakukan istikharah yang tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali. Bila ini dilaksanakan, insya Allah keputusan nantinya akan menguntungkan semua pihak. Kalau masalahnya tidak prinsipil, umumnya kesepakatan mudah didapat.

Ambil Keputusan

Bila semua telah dilakukan, arah menuju perdamaian bisa jadi semakin jelas. keputusan atau jalan keluar bersama dapat dibuat. memang yang apling baik adalah bila jalan keluar itu mengakomodir kepentingan dan harapan orangtua dan anak. "Tapi ingat, keputusan tidak selalu menyenangkan semua pihak, " ujar Enny

Bila memang demikian kondisinya, maka yang perlu dikembangkan adalah sikap toleransi. "Walau beda pendapat, tapi masih dapat digiring pada sikap saling toleransi, " kata Ustadz Surahman

Pada soal apapun, kecuali yang berkaitan dengan hukum agama, segalanya dapat dihadapi dengan toleransi. Ketika, perdamaian sudah tercapai hendaknya semua masalah itu bisa jadi pelajaran. tapi bagaimanapun, bisa jadi konflik itu menimbulkan goresan atau luka. Untuk membuat goresen itu lebih nyaman, pola hubungan antara orangtua dan anak harus lebih baik lagi. "Supaya rasa pedas itu menjadi manis, kadar gulanya harus ditambah, " jelas ustadz Surahman.

Tulisan ini diambil dari majalah Ummi edisi 12/XVI April 2005/1426

Tidak ada komentar: